*PAYAKUMBUH* — Upaya mencetak generasi penghafal Al-Qur'an (hafidz/hafidzah) yang berkualitas di Indonesia terus mendapat dukungan dari dunia akademik. Hal tersebut diwujudkan melalui sidang munaqasyah yang digelar oleh Program Studi (Prodi) Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh, pada Rabu, 22 Juli 2026.
Dalam sidang tersebut, mahasiswa bernama Rinaldi (NIM 2219050) resmi menguji penelitiannya yang berjudul "Penerapan Ilmu Tajwid dalam Peningkatan Hafalan Santri Madrasah Hubbul Qur’an Payakumbuh".
Penelitian ini mengangkat isu krusial dalam dunia pendidikan tahfidz, yakni keterkaitan erat antara penguasaan hukum bacaan Al-Qur'an (tajwid) dengan kualitas dan ketahanan hafalan seorang santri. Rinaldi meneliti secara langsung bagaimana metode penerapan ilmu tajwid mampu menjadi instrumen efektif untuk meminimalisasi kesalahan bacaan sekaligus memperkuat daya tarik hafalan di tingkat santri.
Sidang munaqasyah berlangsung dengan ketat, ilmiah, dan penuh kekhusyukan. Menghadapi sang mahasiswa, lembaga menurunkan tim penguji yang terdiri dari para akademisi dan pakar di bidang Al-Qur'an.
Febri Wardani, M.Ag., ditunjuk untuk memimpin jalannya sidang sebagai Ketua Tim Penguji, sementara Irpan Rambe, M.Ag., secara profesional menduduki posisi Sekretaris yang bertugas mendokumentasikan dan mengarahkan jalannya administrasi ujian.
Sementara itu, sebagai garda terdepan dalam menguji substansi dan kedalaman riset, empat orang dosen penguji ditugaskan secara langsung. Keempat penguji tersebut yakni Yenni Rahman, MA.; Marwit Irianto, MH.; Muhammad Rizqi, MA.; dan Dr. Ade Setiawan, MA.
Keenam penguji ini secara komprehensif melakukan cross-check terhadap landasan teori, metodologi penelitian lapangan, hingga dampak empiris yang dituangkan Rinaldi dalam skripsinya. Diskusi pun berlangsung dinamis, membahas bagaimana pendekatan tajwid tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga psikologis dalam membantu santri mengingat ayat demi ayat Al-Qur'an.
Keberhasilan Rinaldi dalam melewati sidang munaqasyah ini menuai apresiasi dari tim penguji. Penelitiannya dinilai tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata (aplikatif) bagi lembaga pendidikan tahfidz, khususnya Madrasah Hubbul Qur’an Payakumbuh.
Dengan diujiakannya karya ilmiah ini, IDAQU Payakumbuh kembali menegaskan perannya sebagai kawah candradimuka yang tidak hanya fokus pada teori tekstual, tetapi juga menghasilkan kajian-kajian strategis yang menjawab kebutuhan praktis umat Islam di Indonesia dalam menjaga kemurnian dan mutu hafalan Al-Qur'an.
Dalam sidang tersebut, mahasiswa bernama Rinaldi (NIM 2219050) resmi menguji penelitiannya yang berjudul "Penerapan Ilmu Tajwid dalam Peningkatan Hafalan Santri Madrasah Hubbul Qur’an Payakumbuh".
Penelitian ini mengangkat isu krusial dalam dunia pendidikan tahfidz, yakni keterkaitan erat antara penguasaan hukum bacaan Al-Qur'an (tajwid) dengan kualitas dan ketahanan hafalan seorang santri. Rinaldi meneliti secara langsung bagaimana metode penerapan ilmu tajwid mampu menjadi instrumen efektif untuk meminimalisasi kesalahan bacaan sekaligus memperkuat daya tarik hafalan di tingkat santri.
Sidang munaqasyah berlangsung dengan ketat, ilmiah, dan penuh kekhusyukan. Menghadapi sang mahasiswa, lembaga menurunkan tim penguji yang terdiri dari para akademisi dan pakar di bidang Al-Qur'an.
Febri Wardani, M.Ag., ditunjuk untuk memimpin jalannya sidang sebagai Ketua Tim Penguji, sementara Irpan Rambe, M.Ag., secara profesional menduduki posisi Sekretaris yang bertugas mendokumentasikan dan mengarahkan jalannya administrasi ujian.
Sementara itu, sebagai garda terdepan dalam menguji substansi dan kedalaman riset, empat orang dosen penguji ditugaskan secara langsung. Keempat penguji tersebut yakni Yenni Rahman, MA.; Marwit Irianto, MH.; Muhammad Rizqi, MA.; dan Dr. Ade Setiawan, MA.
Keenam penguji ini secara komprehensif melakukan cross-check terhadap landasan teori, metodologi penelitian lapangan, hingga dampak empiris yang dituangkan Rinaldi dalam skripsinya. Diskusi pun berlangsung dinamis, membahas bagaimana pendekatan tajwid tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga psikologis dalam membantu santri mengingat ayat demi ayat Al-Qur'an.
Keberhasilan Rinaldi dalam melewati sidang munaqasyah ini menuai apresiasi dari tim penguji. Penelitiannya dinilai tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata (aplikatif) bagi lembaga pendidikan tahfidz, khususnya Madrasah Hubbul Qur’an Payakumbuh.
Dengan diujiakannya karya ilmiah ini, IDAQU Payakumbuh kembali menegaskan perannya sebagai kawah candradimuka yang tidak hanya fokus pada teori tekstual, tetapi juga menghasilkan kajian-kajian strategis yang menjawab kebutuhan praktis umat Islam di Indonesia dalam menjaga kemurnian dan mutu hafalan Al-Qur'an.